JEPARA – Seorang bocah yang bersekolah di salah satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di desa Srikandang Kecamatan Bangsri mengalami kekerasan fisik . I (10) selaku korban yang masih duduk di kelas empat MI mendapatkan perlakuan kasar oleh guru kelasnya. I ditampar oleh salah satu gurunya dibagian pipi sebelah kiri dan kuping hingga mengalami gangguan pendengaran. Atas kejadian tersebut pihak keluarga korban pada Senin (25/1) melaporkan ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jepara .

Edi Purnomo selaku kakak korban yang melaporkan ke PPA Polres Jepara menjelaskan, kejadian penamparan terhadap adiknya tersebut terjadi pada Minggu (17/1) saat kegiatan belajar mengajar di sekolah . Kejadian bermula ketika korban bersama dengan murid lainnya diberikan tugas menyalin pelajaran IPA .

” Tugas menyalin yang diberikan adalah 12 halaman , namun baru mengerjakan 6 halaman jam pelajaran sudah habis , entah dengan alasan apa sang guru kemudian marah marah dan langsung menampar adik saya di bagian telinga kiri dengan keras ,” ungkapnya .

Awal mula diketahui jika I mengalami gangguan pendengaran ketika I dipanggil oleh orang tuanya namun tidak mendengar . Dari situ orang tuanya curiga , kemudian I ditanya lalu mengaku jika telinganya sakit dan susah mendengar dengan jelas karena mendapatkan perlakuan kasar dari gurunya .

“Kemudian kami klarifikasi kepihak sekolah, dan ternyata diakui oleh gurunya jika memang melakukan tindakan pemukulan tersebut. Hal itu ditegaskan dalam surat pernyaataan yang ditandatangani oleh kepala sekolah dan pihak guru dalam selembar kertas,” terang Edi .

Hingga kini I masih mengalami gangguan pendengaran,pihaknya memeriksakan I ke dokter spesialis THT RSUD Kartini Jepara . Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan dokter I mengalami gangguan pada gendang telinganya . Lebih parahnya lagi kini I juga sudah tidak lagi bersekolah di MI tersebut dengan alasan trauma dan takut jika mendapti perlakuan kasar lagi dan berencana untuk pindah sekolah .

” Selain takut adik saya juga sudah tidak mau berangkat sekolah lagi , dan dia pingin pindah sekolah ,” kata kakak kandungnya tersebut .

Lebih lanjut Edi mengatakan, secara kekeluargaan oknum guru tersebut sebenarnya sudah meminta maaf. Namun melihat perlakuan kasar yang dilakukan oleh adiknya berakibat terhadap dampak psikologi dan fisik serta trauma , pihak keluarga tetap melanjutkan di ranah hukum. Selain itu dari keterangan pihak Kepala Sekolah, oknum guru tersebut memang beberapa kali melakukan tindakan kasar. Setidaknya ada tujuh siswa yang diperlakukan serupa sehingga orang tua para korban tersebut melaporkan ke pihak sekolah,” pungkasnya .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here